• Kita Balas di Jakarta

    Kekalahan Timnas Indonesia 3-0 atas Malaysia pada final leg pertama Piala Suzuki AFF, Minggu (26/12) mengecewakan seluruh rakyat Indonesia. Tidak terkecuali Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman, yang menonton pertandingan di lobi Gedung DPD.

    “Kita kecewa jelas tetapi dengan kekalahan bukan berarti kita tidak semangat kita harus cepat pulih dan melupakan yang sudah terjadi,” kata Irman.

    8 bit


    “Jangan lemas masih ada tanggal dua puluh sembilan Desember. Kita akan balas di Jakarta,” ungkapnya.

    Sementara usai pertandingan di Stadion Nasional Bukit Jalil, Christian Gonzales dkk berjalan lesu meninggalkan lapangan.

    Tim “Garuda” wajib menang 4-0 pada leg kedua di Jakarta pada Rabu (29/12) agar bisa menorehkan sejarah menjuarai Piala AFF untuk pertama-kalinya. Jika pun nanti menang 3-0, maka laga akan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu, dan adu penalti.

    Banyak pihak menyebut, kekalahan Indonesia tak lepas dari teror sinar laser yang dilepaskan para pendukung tuan rumah, yang mengganggu konsentrasi pemain.

    Gangguan sinar laser ini memang jelas terlihat, bahkan di layar televisi. Saat menonton bareng di Cikeas, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun merasa terusik dengan gangguan sinar laser ini.

    Saat istirahat di tengah pertandingan, Presiden SBY mengatakan Indonesia akan melakukan protes. SBY minta Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng yang berada di Malaysia untuk menyampaikan protes.

    “Tadi (kemarin, Red) saya sudah menelepon ke Menpora. Kalau pakai laser-laser begitu, ya sudah sebaiknya protes saja. Itu kan tidak baik, ini persaudaraan,” kata SBY di Cikeas.

    Sebelum adanya insiden laser, Indonesia bermain penuh disiplin. Tim “Merah Putih” bahkan mampu mencetak gol lebih dulu lewat sontekan Cristian Gonzales saat babak kedua baru berjalan dua menit. Sayang, gol tersebut dianulir wasit karena Gonzales berada dalam posisi offside.

    Timnas sudah menyampaikan protes kepada wasit Komang Masaki seusai kiper Indonesia, Markus Horison terkena laser di awal babak pertama atau menit ke-10. Namun, tetap saja laser terus-menerus mengenai pemain Indonesia.

    Sejumlah laser yang tertangkap kamera mengenai pemain Indonesia, di antaranya mengenai Firman Utina di menit 21 dan 25 saat tendangan pojok, dan mengenai Zulkifli di menit 28 saat tendangan bebas.

    Bahkan, Markus kembali ditembak laser jelang babak pertama berakhir di menit ke-42, Markus kembali terkena tembakan sinar lase berwarna hijau tersebut.

    Puncaknya terjadi di menit 53. Saat itu, ketika akan dilakukannya tendangan bebas di dekat kotak penalti Indonesia, sorotan laser mengarah ke wajah kiper Markus Horison.

    Markus memprotes wasit dan kemudian mengajak rekan-rekannya untuk meninggalkan pertandingan. Wasit menyetujui protes Markus dan meminta pemain untuk berhenti bermain.

    Pertandingan pun terpaksa ditunda selama beberapa menit dan “Garuda” kehilangan momentum menyerang. Malaysia memanfaatkan ini dengan memutar arus pertandingan.

    Dan hanya semenit setelah laga ini di-restart, Malaysia berhasil mencetak gol pembuka.

    Gol ini diawali oleh pergerakan Norshahrul Idlan di sisi kiri yang bisa melewati penjagaan Maman Abdurachman. Umpan pendek Idlan dicocor Mohd Safee Sali untuk merobek jala Markus.

    Di menit 66, Safee Sali kembali mengancam pertahanan Indonesia. Umpan Idlan ke Safee gagal diantisipasi oleh Markus, beruntung ada Zulkifli Syukur yang menghalau bola dengan kepala.

    Tak sampai semenit, Indonesia kebobolan gol kedua. Kembali aksi Idlan yang membelah pertahanan Indonesia kemudian mengirim umpan ke Ashari yang dengan jitu melepaskan tendangan keras yang bersarang di pojok atas gawang ‘Garuda’.

    Alih-alih bangkit, di menit 73, Indonesia malah dipaksa menerima gol ketiga bersarang di gawang Markus. Kali ini tandukan Safee menyambut umpan Mahalli bin Jasuli yang menjadi prosesnya.

    Tak BagusNamun, Pelatih Indonesia, Alfred Riedl enggan menjadikan teror laser itu sebagai penyebab besar timnya kebobolan tiga gol. “Mungkin mengganggu. Tapi saya mesti tanya pada pemain, seberapa buruk efek sinar laser itu. Tapi ke depan hal-hal seperti ini harus dihentikan. Ini tidak bagus untuk sepakbola, “ katanya dalam konferensi pers pasca pertandingan di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Minggu (26/12) malam.

    “Ini bukan soal laser tetapi kesalahan individual dari satu pemain. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan pemain setelah gol pertama, tetapi itu titik baliknya. Saya akan mendiskusikan itu dengan pemain besok,” tambahnya.

    Secara teknis, papar Riedl, Firman Utina dkk sudah bermain normal di awal pertandingan. Secara umum performa tim asuhannya sudah bagus dan mampu menguasai lapangan.

    “Semua berjalan normal sampai gol pertama mereka mengubah semuanya. Malaysia mendapatkan kepercayaan diri, kita agak kebingungan. Terkadang sepakbola ya seperti ini,” imbuhnya.

    Masuknya Irfan Bachdim dan Arif Suyono sedikit menaikkan harapan Indonesia. Namun pertahanan dan koordinasi tim Malaysia sudah terlanjur bagus dan mereka pun sudah nyaman dengan unggul tiga gol.

    Sampai menit-menit akhir, para pemain Indonesia terus mencoba menyerang. Namun sampai akhir tidak ada gol yang berhasil mereka ciptakan ke gawang Malaysia dan tim ‘Harimau Malaya’ pun resmi menang 3-0.

    Riedl mengakui, perjalanan skuad “Garuda” menjadi sangat berat dan tak lagi jadi favorit untuk juara.

    “Sangat berat walaupun semuanya masih memungkinkan. Tapi kans kami mengecil untuk memenangi turnamen ini 5-10 persen saja.... Setelah kekalahan ini kami bukan lagi favorit,” ujar pelatih asal Austria itu.
  • Klasmen Sriwijaya FC

    Klasmen Go-Jek Traveloka Liga 1 2017/2018.

    Alamat

    Palembang, Sumatra Selatan

    EMAIL

    atobelitang@gmail.com