• PSSI Rilis Alasan Penolakan Federasi Terkait LPI

    PSSI menjawab pertanyaan besar terkait penolakan mereka terkait Liga Primer Indonesia (LPI). Sejumlah dukungan kepada LPI terkait pelaksanaan kompetisi ini membuat PSSI memberikan fakta terkait aspek regulasi dan nilai-nilai keolahragaan.

    8 bit


    Federasi sepak bola Indonesia ini merilis, pertama, referensi dan dasar hukum dari pelaksanaan sebuah kompetisi sepak bola di sebuah negara. Pada umumnya, kompetisi sepak bola dapat dibedakan melalui status klub peserta kompetisi tersebut, yaitu kompetisi amatir dan profesional. Dalam hal pengelolaan kompetisi atau liga di suatu negara, PSSI mengacu kepada FIFA Statutes Article 18 par 1.

    Bunyi aturan itu sesuai rilis dari PSSI adalah sebagai berikut: ”Klub, liga, pengurus provinsi, atau kelompok klub yang berafiliasi pada PSSI diakui dan berada dalam otoritas PSSI. Statuta ini menjelaskan lingkup kewenangan serta hak-hak dan kewajiban-kewajiban klub-klub dan kelompokkelompok tersebut. Statuta dan peraturanperaturan klub, liga, pengurus provinsi atau kelompok klub tersebut harus disetujui dan disahkan oleh Komite Eksekutif PSSI.”

    Dari apa yang dicantumkan di atas, pengelolaan kompetisi suatu negara yang merupakan anggota FIFA wajib mendapatkan pengakuan dari federasi sepak bola di negara tersebut. PSSI pun mengklaim, semua harus mampu membedakan pengertian antara larangan dan pengakuan yang selama ini menjadi perdebatan di masyarakat.

    Dalam penjelasan sebelumnya, LPI merupakan sebuah kompetisi profesional sebagaimana hal yang sama berlaku untuk Indonesia Super League (ISL). ISL yang dikelola oleh PT Liga Indonesia (Liga) dan mendapatkan pengakuan dari PSSI. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga telah standar terhadap pengelolaan liga profesional di negara anggotanya. AFC pun memberikan apresiasi bagi negara-negara anggota AFC yang mampu mencapai standar tersebut.

    Apresiasi itu berupa kesempatan ikut berpartisipasi di kompetisi antarklub Asia, Liga Champions Asia (LCA), dan AFC Cup. Fakta yang terjadi untuk musim 2010/2011, hanya 10 negara yang dapat berpartisipasi di LCA dan salah satunya adalah Indonesia. Referensi lain yang menjadi dasar terhadap pengelolaan kompetisi profesional adalah Club Licensing System (CLS).

    CLS diwajibkan oleh FIFA untuk diimplementasikan di negara anggotanya yang memiliki liga sepak bola profesional. Implementasi CLS di Indonesia telah dilakukan sejak 2008 bersamaan dengan dilaksanakannya ISL. Pada 2013 merupakan tenggat waktu yang ditetapkan oleh AFC kepada seluruh negara anggota AFC termasuk Indonesia untuk mengimplementasikan CLS dalam liga profesional.

    CLS merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh klub untuk mengikuti liga profesional yang terdiri atas lima kriteria, yaitu sporting (youth development), infrastruktur, personel, administrasi, serta legal dan keuangan. CLS pada awalnya diterapkan di liga Eropa melalui UEFA sejak 2001. Sampai sekarang sistem ini mengalami perkembangan yang signifikan bagi negara- negara anggota UEFA, khususnya tentang pengelolaan liga sepak bola profesional.

    PSSI melalui rilis ini juga menyampaikan fakta bahwa kompetisi yang ideal adalah kompetisi yang berjenjang. Level kompetisi yang diputar dari divisi terbawah sampai kasta tertinggi menggunakan sistem promosi dan degradasi. Selain itu, kompetisi menghormati integritas sportivitas yang harus dijunjung tinggi dalam sepak bola sebagaimana diatur dalam Article 19 FIFA Regulations Governing the Application of the Statutes: Principle of Promotion and Relegation.
  • Klasmen Sriwijaya FC

    Klasmen Go-Jek Traveloka Liga 1 2017/2018.

    Alamat

    Palembang, Sumatra Selatan

    EMAIL

    atobelitang@gmail.com