FR 12 Si Penyelamat Adu Penalti

STADION Jakabaring, Palembang, Sabtu (12/2) malam bergemuruh oleh sorak-sorai dan kegembiraan penonton. Sebuah laga apik dipertontonkan dalam play-off Liga Champions Asia. Kesebelasan Sriwijaya FC yang berjibaku melawan Muang Thong United akhirnya memetik kemenangan (7-6) melalui drama adu penalti.
SFC Mania

Dalam drama yang menentukan itu, Ferry Rotinsulu boleh dikata menjadi pahlawan Sriwijaya FC, yang dengan gemilang bisa menepis tendangan dua pemain Muang Thong, Cristian Kouakou dan Werawut Kayem. Semua mata pun tertuju pada Ferry dan sambutan luar biasa ia terima malam itu.

Ketangguhan Klub Sriwijaya FC dalam dunia sepak bola Indonesia hingga meraih double winner dalam satu musim (juara Liga Indonesia dan juara Piala Copa) memang tidak lepas dari peran Ferry juga. Keberaniannya dan instingnya membaca tendangan lawan sering kali menyelamatkan gawang 'Laskar Wong Kito'.

Kiper utama Sriwijaya FC yang juga merupakan kiper lapis dua Timnas Indonesia sejak musim kompetisi pada 2007 lalu tampil begitu cemerlang. Bahkan dia dicatat kebobolan paling sedikit jika dibandingkan dengan penjaga gawang lainnya, hanya 12 gol dalam putaran pertama di musim itu hingga membawa Sriwijaya FC menjadi sang juara.

Pemilik nomor punggung 12 ini mengawali kariernya di dunia sepak bola pada 1999, dengan bergabung ke klub Persipal (Persatuan Sepak Bola Indonesia Palu) asal tanah kelahirannya, Sulawesi Tengah.

Selama empat musim bersama Persipal, ayah Andrea Syahirah ini langsung merapat ke Persijatim Solo selama satu musim, hingga sampai Persijatim berganti nama menjadi Sriwijaya Football Club (SFC) Palembang, sampai saat ini.

Menurut Ferry, seorang kiper tak ubahnya seorang striker yang harus berlatih keras jika ingin piawai dalam mementahkan tendangan musuh ke gawang yang dijaganya.

Untuk mempertajam kemampuannya itu, pria yang memiliki tinggi badan 182 cm ini sempat menjalani latihan di Belanda selama tujuh bulan. Timnas Indonesia yang saat itu diasuh Ivan Kolev memanggilnya untuk bergabung di Piala Asia 2007.

Namun, suami Annisa Katarima ini hanya menjadi penjaga gawang lapis tiga karena harus bersaing ketat dengan seniornya, Jendri Pitoy dan Markus Haris Maulana.

Seiring berjalannya waktu, Ferry yang pada Desember nanti berusia 29 tahun ini, naik satu tingkat posisinya menjadi kiper cadangan Timnas Indonesia lapis kedua di bawah kiper utama Markus.

Selama beberapa musim bergabung di Timnas Indonesia, nama Ferry memang selalu dibangkucadangkan beberapa pelatih yang pernah membesut timnas, mulai dari Ivan Kolev, Benny Dollo, hingga Alfred Riedl. Meski, penampilannya selalu menunjukkan hasil yang bagus dalam membela klubnya, Sriwijaya FC.

"Saya tidak tahu mengapa saya selalu menjadi penjaga gawang kedua. Mungkin pelatih punya pandangan sendiri mengenai kepiawaian seorang penjaga gawang," jelasnya seusai pertandingan melawan Muang Thong United.

Kendati demikian, Ferry tetap merasa bangga bisa membela Indonesia dengan menjadi bagian dari timnas. "Itu merupakan suatu kebanggaan bagi pemain sepak bola mana pun. Saya tetap berkomitmen akan bermain bagus," tambahnya.

Bagi Ferry, dalam dunia sepak bola yang terpenting adalah bersikap profesional dengan terus melakukan latihan secara baik. "Saya percaya prestasi dan karier akan ikut serta kalau kualitas kita bagus," tambahnya.

Salah jalur

Perjalanan kiper utama SFC ini sebenarnya 'salah jalur.' Keseriusannya sebagai pemain bola tidak diawali sebagai penjaga gawang. Bahkan ia akui posisi yang dibidiknya ialah penyerang.

"Dulunya saat masih di sekolah bola saya adalah seorang penyerang, tapi saya tidak tahu kenapa malah ditaruh menjadi kiper. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang kiper," jelasnya.

Bahkan di mata pelatih kiper SFC Indrayadi, Ferry sangat layak menjadi kiper utama Timnas Indonesia, apalagi ia memiliki banyak pengalaman di ajang internasional.

Penilaian Indrayadi itu tidak berlebihan. Ferry terbukti tangguh dalam menyelamatkan gawang pada posisi bola-bola sulit. Sriwijaya FC yang dibelanya pun sudah menikmati tangan dingin Ferry yang sudah banyak mengoleksi gelar.

"Anda bisa lihat Ferry selalu menyelamatkan gawang SFC di kala klub tercintanya itu harus menjalani adu penalti saat hampir memasuki semifinal maupun final dalam segala ajang yang diikuti klubnya," jelas Indra. Tak mengheran jika kini kepiawaian Ferry di bawah mistar gawang membuatnya menjadi rebutan klub-klub sepak bola di Tanah Air. Seperti memasuki musim lalu, PSM Makassar dan Persija Jakarta ingin meminangnya.

Namun, Ferry tetap bersikukuh bertahan di klub Sriwijaya FC yang telah memberikan jalan pasangan hidup (Annisa Katarima) dan seorang anak Andrea Syahira itu.

Read Also:

Related Posts
Disqus Comments