Pesimistis Ke-16 Besar

Peluang Sriwijaya FC untuk lolos ke babak 16 besar AFC Cup tahun ini terasa sangat berat. Menghadapi VB Sport Rabu kemarin di Stadion Nasional Male, Laskar Sriwijaya julukan Sriwijaya FC harus bertekuk lutut dengan skor 0-2. Padahal secara kualitas Sriwijaya unggul segalanya atas VB Sport. Lihat saja dua tim dari grup F, Song Lam Nghe An dan TSW Pegasus saja bisa menang di kandang VB Sport. Sedangkan Keith Jerome Gumbs dan kawan-kawan tidak mampu meraih kemenangan. Apa yang salah dari tim juara Piala Indonesia 2010-2011 ini?
FC Sriwijaya


Pertanyaan ini muncul terus sejak pelatih Ivan Kolev membesut tim kebanggaan wong Sumsel ini. Sriwijaya FC selalu kesulitan menghadapai tim-tim kecil. Paskah menjuarai Inter Island Cup dan Community Shield awal musim kompetisi lalu, Laskar Sriwijaya kerepotan meraih kemenangan. Padahal Sriwijaya musim ini diperkuat pemain bintang dengan label timnas Indonesia dan mantan timnas.

Menjamu TSW Pegasus Hong Kong tanggal 11 Mei nanti pada laga terakhir penyisihan grup F AFC Cup para pemain Sriwijaya pesimistis untuk lolos ke babak kedua. “Kami capek dan kami butuh istirahat karena setiap hari latihan fisik dan beban sedangkan latihan strategi sama sekali sangat jarang bahkan tidak ada instruksi dari pelatih untuk latihan taktik,” ungkap Keith Jerome Gumbs kepada wartawan koran ini di hotel Marble Maladewa kemarin.

“Kami tidak hanya lelah fisik tapi juga lelah fikiran. Semuanya karena individu pemain tidak ada permainan kolektif layaknya sebuah tim besar. Padahal kami butuh kombinasi dan permainan yang variatif setiap pertandingan. Itulah mengapa Sriwijaya FC selalu kalah setiap pertandingan menghadaapi tim-tim kecil,” sambung kapten Sriwijaya FC ini.

Lebih lanjut kapten tim Sriwijaya FC ini tidak menampik kelelahan fisik memang tengah melanda tim Sriwijaya FC. Latihan beban yang berat dengan fitness ditambah lompat-lompat tiap hari selain itu menu latihan tidak variatif membuat pemain capek duluan sebelum bertanding. Kondisi ini membuat para pemain tidak enjoy saat bertanding. “Yang kami butuhkan sekarang rileks dan istirahat dengan porsi yang benar,” jela pemilik jersey 17 ini.

“Latihan berat dengan beban fisik tidak akan membantu lagi karena kompetisi semakin padat. Ini tidak bagus karena banyak pemain yang rentan cedera. Padahal saya pribadi baik sebagai kapten maupun sebagai pemain terus berbicara kepada pelatih tapi tidak pernah ditanggapi dengan serius bahkan porsi latihan malah ditambah berat,” lanjut mantan pemain Sabah FC Malaysia ini.

Pemain asal ST Kitts and Nevis ini membantah dirinya kurang fit saat menghadapi VB Sport. Justru Kayamba sapaan karibnya menilai penempatan posisinya salah. Biasanya Kayamba bermain di kiri atau di kanan bukan di tengah. “Aliran bola tidak mengalir ke lini depan karena para pemain sibuk lakukan pressing dan melupakan pertahanan. Saat lawan melakukan counter attack pemain lambat turun untuk mengover serangan lawan. Tak heran musim ini banyak melakukan pelanggaran,” tambahnya.

Sriwijaya FC tidak layak memainkan bola pressing karena factor umur. Kebanyakan pemain Sriwijaya FC berusia diatas 25 tahun bahkan ada yang berumur diatas 30 tahun. Butuh energy dan fisik prima untuk lakukan pressing. “Musim kemarin Sriwijaya sangat kompak saat di tangani pelatih Rahmad Darmawan menyerang secara kolektif dan bertahan secara kolektif. Menyerang dengan sabar dan turun bersama-sama menghalau serangan lawan. Musim ini pemain hanya melakukan pressing ketat dan inter save (buang bola). Saya berkali-kali bicara dengan pelatih tapi tidak pernah digubris bahkan porsi latihan fisik ditambah dengan berat. Saya sangat pesimistis Sriwijaya lolos ke babak 16 besar seperti tahun kemarin,” pungkas mantan Hulk City ini.

Read Also:

Related Posts
Disqus Comments